Harapan Baru KEK Arun Era Mualem – Dek Fadh

Berita, Opini2 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Muhammad Azwir, S.E

Kaperwil : Suara Buruh Nasional.my.id

banner 336x280

Aceh berada pada persimpangan sejarah penting. Kepemimpinan baru di bawah Muzakir Manaf (Mualem) dan Fadhlullah, S.E (Dek Fadh) menghadirkan harapan segar untuk menjawab persoalan besar Aceh: pengangguran, kemiskinan, dan stagnasi ekonomi. Di antara banyak agenda strategis, perhatian terhadap Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe menjadi titik terang yang layak mendapat sorotan serius.

KEK Arun bukan sekadar kawasan industri, tetapi simbol bagaimana Aceh menempatkan dirinya dalam percaturan ekonomi nasional. Selama ini, aset berharga itu dikelola dengan dominasi pemerintah pusat, sehingga peran daerah kerap terbatas. Kini, dengan masuknya PT. Pembangunan Aceh (PEMA) ke dalam konsorsium besar PT. Patriot Nusantara Aceh (PATNA) bersama BUMN strategis, arah kebijakan mulai menunjukkan perubahan nyata. Aceh tidak hanya menunggu, tapi ingin menentukan.

Komitmen Politik Mualem – Dek Fadh

Langkah Mualem – Dek Fadh patut dicatat sebagai sebuah komitmen politik yang berorientasi pada hasil nyata, tidak lagi menempatkan pembangunan hanya sebagai jargon, melainkan sebagai instrumen untuk memotong rantai kemiskinan struktural. Fokus pada KEK Arun berarti membuka jalan untuk penciptaan lapangan kerja massal bagi generasi muda Aceh, pengembangan industri hilir yang menambah nilai tambah pada sumber daya migas, energi, pertanian, maupun hasil laut, Kemandirian ekonomi agar Aceh tidak terus bergantung pada transfer dana pusat, Inilah politik yang berpihak, menggunakan aset daerah untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat.

Tantangan Nyata di Depan Mata

Meski penuh peluang, perjalanan ini tidak akan mudah. Ada beberapa tantangan mendasar yang harus segera diatasi:

  1. Kendali aset yang belum penuh. Sebagian besar lahan KEK Arun masih berada di bawah kewenangan LMAN, sehingga ruang gerak pemerintah daerah terbatas.
  2. Resiko pengelolaan yang tidak profesional. Tanpa tata kelola transparan, PT. PEMA bisa saja terjebak pada kepentingan sempit dan gagal berfungsi optimal.
  3. Kualitas investasi. Tidak semua investasi berdampak langsung pada rakyat. Jika hanya fokus pada angka, manfaat sosial-ekonomi bisa terabaikan.
  4. Kapasitas SDM lokal. Kesiapan tenaga kerja Aceh harus ditingkatkan agar mereka tidak sekadar menjadi penonton di tanah sendiri.

Saran Konstruktif dari Penulis

Agar momentum ini benar-benar menjadi batu loncatan bagi Aceh, ada beberapa langkah penting yang penulis sarankan:

Perjuangkan kewenangan penuh atas KEK Arun melalui negosiasi politik yang intensif dengan pemerintah pusat, bangun tata kelola PT. PEMA berbasis meritokrasi yang profesionalisme dan akuntabilitas menjadi syarat mutlak, fokus pada hilirisasi dan diversifikasi industri agar Aceh tidak bergantung hanya pada migas, tetapi juga sektor perikanan, pertanian, dan energi terbarukan, pastikan investasi berpihak pada rakyat kecil, terutama dengan aturan wajib menyerap tenaga kerja lokal secara signifikan.


Penutup

Era Mualem – Dek Fadh bukan sekadar periode kepemimpinan baru, tetapi juga ujian bagi Aceh: apakah kita mampu mengelola aset strategis dengan keberanian, kecerdasan, dan kesungguhan. KEK Arun bisa menjadi tonggak sejarah baru, jika dikelola dengan visi jangka panjang dan berpihak pada rakyat.

Aceh butuh keberanian politik seperti yang ditunjukkan hari ini. Dengan dukungan semua pihak, KEK Arun dapat menjelma menjadi pusat ekonomi yang bukan hanya membanggakan, tetapi juga benar-benar mengangkat derajat hidup rakyat Aceh.

Harapan baru itu ada di depan mata. Tinggal bagaimana kita menjaganya agar tidak sekadar menjadi mimpi, tetapi kenyataan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *