{"id":12203,"date":"2026-04-07T13:22:09","date_gmt":"2026-04-07T13:22:09","guid":{"rendered":"https:\/\/suaraburuhnasional.my.id\/?p=12203"},"modified":"2026-04-07T13:24:13","modified_gmt":"2026-04-07T13:24:13","slug":"kerajinan-kasab-aceh-barat-warisan-budaya-bernilai-ekonomi-yang-terus-dilestarikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/suaraburuhnasional.my.id\/?p=12203","title":{"rendered":"Kerajinan Kasab Aceh Barat, Warisan Budaya Bernilai Ekonomi yang Terus Dilestarikan"},"content":{"rendered":"<ul>\n<li><strong>Aceh Barat<\/strong>. Kerajinan kasab Aceh merupakan salah satu warisan budaya daerah yang memiliki nilai<\/li>\n<\/ul>\n<p>seni tinggi sekaligus bernilai ekonomi. Di Aceh Barat, kerajinan tradisional ini terus<\/p>\n<p>dilestarikan oleh para pengrajin lokal, salah satunya melalui usaha yang dirintis sejak<\/p>\n<p>tahun 2000 oleh Ny. Ema Mutiara Deka yang merupakan anggota Persit Kartika Chandra<\/p>\n<p>Kirana Cabang XXVIII Dim 0105 Koorcab Rem 012 PD Iskandar Muda.<\/p>\n<p>Usaha kerajinan kasab ini berawal dari motivasi untuk menambah penghasilan keluarga<\/p>\n<p>sekaligus membantu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Keterampilan<\/p>\n<p>menyulam kasab diperoleh secara turun-temurun dari orang tua yang juga merupakan<\/p>\n<p>pengrajin kasab Aceh. Bagi pelaku usaha, kasab tidak hanya memiliki nilai jual, tetapi juga<\/p>\n<p>menjadi media untuk menuangkan inspirasi serta menjaga identitas budaya Aceh.<\/p>\n<p>Dalam proses pembuatannya, kerajinan kasab menggunakan bahan utama berupa kain<\/p>\n<p>beludru dan kain bridal yang dipadukan dengan benang emas, perak, serta benang warnawarni berkualitas tinggi. Pemilihan kain beludru didasarkan pada pertimbangan estetika<\/p>\n<p>dan fungsi, karena mampu memberikan kesan mewah, elegan, serta cukup kuat menahan<\/p>\n<p>beban sulaman benang tanpa merusak tekstur kain.<\/p>\n<p>Proses pembuatan kasab masih dilakukan secara manual atau tradisional. Tahapan<\/p>\n<p>diawali dengan pembuatan motif pada kain, kemudian kain dipasang di atas meja kayu<\/p>\n<p>sebelum memasuki proses penyulaman tangan. Waktu pengerjaan bervariasi tergantung<\/p>\n<p>jenis produk, mulai dari satu minggu hingga satu bulan, seperti pada pembuatan kain<\/p>\n<p>songket yang membutuhkan ketelitian tinggi.<\/p>\n<p>Motif yang umum digunakan dalam kerajinan kasab Aceh antara lain Pucok Rebung, Pinto<\/p>\n<p>Aceh, dan Sulubayung. Setiap motif memiliki makna filosofis tersendiri. Motif Pucok<\/p>\n<p>Rebung melambangkan harapan, kekuatan, dan pertumbuhan, sedangkan Pinto Aceh<\/p>\n<p>mencerminkan nilai kerendahan hati, keterbukaan, serta kehangatan masyarakat Aceh.<\/p>\n<p>Sementara itu, motif Sulubayung merupakan motif khas Aceh Barat yang melambangkan<\/p>\n<p>keindahan alam, kesucian, serta kehidupan yang harmonis.<\/p>\n<p>Berbagai produk dihasilkan dari kerajinan kasab Aceh, di antaranya pelaminan Aceh,<\/p>\n<p>perlengkapan pesijuk, busana, songket, tas, tempat tisu, hingga hiasan dinding.<\/p>\n<p>Produk-produk tersebut digunakan untuk keperluan adat, dekorasi pesta perkawinan,<\/p>\n<p>fashion, serta cinderamata bagi wisatawan.<\/p>\n<p>Dalam hal pemasaran, produk kasab Aceh dipasarkan secara langsung kepada konsumen<\/p>\n<p>serta melalui media sosial dan pameran budaya. Target pasar utama meliputi wisatawan<\/p>\n<p>yang berkunjung ke Aceh Barat serta masyarakat lokal. Usaha ini juga telah menerima<\/p>\n<p>pesanan dari luar daerah.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sejumlah tantangan masih dihadapi dalam pengembangan usaha kerajinan kasab, di<\/p>\n<p>antaranya keterbatasan modal, ketersediaan bahan baku berkualitas, serta menurunnya<\/p>\n<p>minat generasi muda untuk melanjutkan regenerasi pengrajin kasab.<\/p>\n<p>Usaha kerajinan kasab ini melibatkan masyarakat sekitar melalui pembentukan kelompok<\/p>\n<p>usaha. Keberadaan usaha tersebut memberikan dampak positif terhadap<\/p>\n<p>perekonomian keluarga dan lingkungan sekitar. Dukungan dari Pembina dan Ketua<\/p>\n<p>Persit Kartika Chandra Kirana Daerah Iskandar Muda Ny. Tri Joko Hadi Susilo turut<\/p>\n<p>berperan dan mendukung keberlangsungan usaha tersebut.<\/p>\n<p>Pada event \u201cPersit Bisa\u201d tahun ini, UMKM kerajinan kasab Aceh Barat turut ambil bagian<\/p>\n<p>dengan menampilkan wajah baru melalui penguatan identitas produk serta strategi promosi<\/p>\n<p>yang lebih modern tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi. Event \u201cPersit Bisa\u201d merupakan<\/p>\n<p>program pemberdayaan kreatif istri prajurit TNI Angkatan Darat yang tergabung dalam<\/p>\n<p>Persit Kartika Chandra Kirana, sebagai wadah untuk memamerkan produk UMKM,<\/p>\n<p>kerajinan daerah, seni budaya, serta peragaan busana. Kegiatan ini bertujuan untuk<\/p>\n<p>meningkatkan potensi dan kreativitas anggota Persit, mendorong kemandirian ekonomi<\/p>\n<p>keluarga, serta memberikan apresiasi terhadap karya-karya anggota Persit. Keikutsertaan<\/p>\n<p>kerajinan kasab Aceh Barat dalam kegiatan ini menjadi wujud nyata peran aktif Persit<\/p>\n<p>Kartika Chandra Kirana PD Iskandar Muda dalam melestarikan warisan budaya daerah<\/p>\n<p>sekaligus memperkuat daya saing produk lokal agar mampu berkembang dan dikenal lebih<\/p>\n<p>luas di tingkat nasional hingga mancanegara.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aceh Barat. Kerajinan kasab Aceh merupakan salah satu warisan budaya daerah yang <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/suaraburuhnasional.my.id\/?p=12203\" title=\"Kerajinan Kasab Aceh Barat, Warisan Budaya Bernilai Ekonomi yang Terus Dilestarikan\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":12204,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[113],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":{"0":"post-12203","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-rem-012-pd-iskandar-muda"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/suaraburuhnasional.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12203","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/suaraburuhnasional.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/suaraburuhnasional.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suaraburuhnasional.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suaraburuhnasional.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12203"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/suaraburuhnasional.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12203\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12214,"href":"https:\/\/suaraburuhnasional.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12203\/revisions\/12214"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suaraburuhnasional.my.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/12204"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/suaraburuhnasional.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12203"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/suaraburuhnasional.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12203"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/suaraburuhnasional.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12203"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/suaraburuhnasional.my.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=12203"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}