

BANDA ACEH – Suara Buruh Nasional- Di tengah naiknya harga beras di pasaran, Perum Bulog Kanwil Aceh menegaskan stok beras untuk masyarakat Aceh aman hingga awal 2026. Bahkan, sebagian stok dikirim ke Medan demi pemerataan pasokan antar daerah.
Langkah ini, menurut Kepala Bulog Aceh, dilakukan bukan sekadar inisiatif lokal, melainkan hasil perhitungan matang dari pemerintah pusat.
“Pengiriman ke Medan sudah melalui hitungan kebutuhan daerah. Setelah dikirim pun stok kita tetap cukup untuk lima bulan ke depan,” tegasnya.
Bulog Aceh memproyeksikan stok akhir 2025 mencapai 46 ribu ton, cukup untuk menutup masa sebelum panen raya Maret–April 2026. Strategi ini juga bertujuan menjaga harga gabah petani agar tidak jatuh saat panen tiba.
Saat ini Bulog menjalankan tiga fungsi utama: ketersediaan pasokan, pemerataan distribusi, dan stabilisasi harga. Program bantuan pangan, beras RPKH, dan beras SPHP telah digulirkan, melibatkan TNI-Polri untuk memastikan distribusi sampai ke pasar-pasar dan konsumen akhir.
Bulog menegaskan harga beras SPHP tetap di bawah HET Rp13.100 per kilogram. Pengecer yang menjual di atas HET akan ditindak tegas oleh Satgas Pangan, mulai dari teguran hingga pencabutan izin.
“Kami tidak main-main. Aturan harga ini harus ditegakkan untuk melindungi masyarakat,” ujarnya.
Bulog Aceh menargetkan penyaluran 27 ribu ton beras SPHP hingga Desember 2025. Masyarakat diimbau tidak menimbun atau menjual kembali beras bantuan secara ilegal. “Kalau mau jual, daftar resmi jadi pengecer di Bulog. Kita legal-kan, tidak ada hambatan,” katanya.
Dengan langkah ini, Bulog optimis kebutuhan beras Aceh terpenuhi meski ada pengiriman ke luar daerah. “Stok kita melimpah. Bahkan kalau kuota ditambah, kita siap. Jadi, tidak perlu khawatir,” pungkasnya.








