Teliti Cangkang Sawit Jadi Pupuk Organik, PT KTS Dorong Pertanian Berkelanjutan di Aceh Barat

Teliti Cangkang Sawit Jadi Pupuk Organik, PT KTS Dorong Pertanian Berkelanjutan di Aceh Barat

News5 Dilihat
banner 468x60

 

banner 336x280

Aceh Barat — Penelitian pemanfaatan cangkang kelapa sawit sebagai pupuk organik yang dilakukan akademisi Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar membuktikan bahwa limbah industri sawit dapat diolah menjadi biochar yang efektif memperbaiki kualitas tanah. Riset ini terlaksana berkat fasilitasi PT Karya Tanah Subur.

Peneliti dari Universitas Teuku Umar, Nurliani, menyampaikan apresiasinya atas dukungan perusahaan terhadap kegiatan riset tersebut. Ia menilai kolaborasi ini menjadi contoh sinergi positif antara dunia usaha dan akademisi dalam mendorong pertanian berkelanjutan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada manajemen PT Karya Tanah Subur yang telah membuka ruang kolaborasi dan memfasilitasi penelitian ini. Dukungan perusahaan sangat membantu proses riset hingga menghasilkan temuan yang aplikatif bagi masyarakat,” ujarnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa biochar dari cangkang sawit berfungsi sebagai amelioran tanah yang mampu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologis tanah. Dibandingkan biochar dari bahan organik lain seperti sekam padi, sabut kelapa, batok kelapa, maupun tongkol jagung dengan metode pengolahan yang sama, biochar cangkang sawit terbukti lebih efektif dalam menurunkan tingkat keasaman tanah dan meningkatkan kegemburan.

Sebagai tahap awal, pupuk organik berbasis biochar cangkang sawit ini diaplikasikan pada tanaman buncis. Hasilnya menunjukkan pertumbuhan tanaman yang lebih baik serta kondisi tanah yang lebih stabil. Menurut peneliti, biochar cangkang sawit berperan menjaga keseimbangan pH tanah, meningkatkan daya simpan air, serta mendukung aktivitas mikroorganisme yang penting bagi kesuburan tanah jangka panjang.

Dari sisi perusahaan, Manajemen PT Karya Tanah Subur, Halik Barutu, menyebut inovasi ini sebagai bagian dari upaya perusahaan dalam mengelola limbah industri secara bertanggung jawab.

“Pemanfaatan cangkang sawit sebagai pupuk organik mungkin masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat, namun secara ilmiah ini sangat menjanjikan dan telah terbukti melalui penelitian. Ini sejalan dengan komitmen kami dalam menerapkan prinsip keberlanjutan di setiap aktivitas operasional,” katanya.

Ia menambahkan, perusahaan berharap hasil riset ini dapat mendorong pemanfaatan limbah sawit secara lebih luas, tidak hanya untuk kepentingan industri, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi sektor pertanian dan masyarakat sekitar.

Senada dengan itu, Manajemen PT Karya Tanah Subur, Ashar Khoirurrozi, menegaskan bahwa program penelitian ini merupakan bagian dari inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan yang berfokus pada pengelolaan limbah berkelanjutan dan penguatan pertanian ramah lingkungan.

“Perusahaan memiliki komitmen kuat terhadap keberlanjutan. Melalui riset biochar cangkang sawit ini, kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya mendukung keberlanjutan perusahaan, tetapi juga keberlanjutan lingkungan dan sosial di sekitar wilayah operasional,” jelasnya.

Menurut Ashar, pupuk organik dari cangkang sawit berpotensi menjadi alternatif yang lebih ekonomis dan mudah diakses oleh petani. Selain membantu menekan biaya produksi pertanian, inovasi ini juga dinilai mampu mengurangi dampak lingkungan dari limbah industri kelapa sawit.

Melalui kolaborasi dengan Universitas Teuku Umar, PT Karya Tanah Subur berharap hasil penelitian ini dapat terus dikembangkan dan dipraktikkan secara lebih luas di masyarakat. Program ini sekaligus menegaskan peran perusahaan dalam mendorong praktik pertanian berkelanjutan serta memperkuat sinergi antara dunia usaha, akademisi, dan petani di Aceh Barat.(*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *